Mary's Room

bisakah pengetahuan fisik tentang warna menggantikan pengalaman melihat warna

Mary's Room
I

Coba kita bayangkan sejenak indahnya langit saat matahari terbenam. Ada semburat warna jingga, merah muda, hingga ungu tua yang perlahan memudar menjadi gelap. Melihat warna-warna itu sering kali membuat kita merasa tenang, kagum, atau bahkan sedikit melankolis. Sekarang, mari kita pikirkan sesuatu yang sedikit nakal. Pernahkah kita bertanya-tanya, apakah membaca buku tebal tentang ilmu fisika cahaya bisa memberikan kita perasaan yang sama persis dengan melihat senja itu sendiri? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Tapi di dunia filsafat pikiran dan neuroscience, pertanyaan semacam ini pernah memicu perdebatan yang sangat luar biasa. Kita sering berasumsi bahwa sains mampu menjelaskan segalanya. Mulai dari pergerakan galaksi hingga cara kerja sel tubuh kita. Namun, apakah sekumpulan data, angka, dan fakta ilmiah mampu merekam "rasanya" menjadi manusia? Untuk menjawabnya, mari kita melangkah ke dalam sebuah ruangan tertutup. Ruangan ini tidak biasa, dan penghuninya akan mengajak kita mempertanyakan ulang makna dari kata "tahu".

II

Mari kita berkenalan dengan Mary. Ia adalah tokoh fiktif dalam sebuah eksperimen pikiran (thought experiment) terkenal yang digagas oleh filsuf Frank Jackson pada tahun 1982. Kisah Mary dimulai dengan latar belakang yang sedikit mirip film fiksi ilmiah fobia-warna. Sejak lahir, Mary dikurung di dalam sebuah ruangan yang sepenuhnya berwarna hitam dan putih. Dindingnya hitam putih. Perabotannya hitam putih. Bahkan buku-buku dan layar televisi yang ia tonton sehari-hari hanya menampilkan gradasi warna abu-abu. Namun, ada satu hal yang sangat istimewa dari Mary. Ia adalah ilmuwan super jenius yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mempelajari neurobiologi tentang penglihatan. Mary tahu segalanya, sungguh segalanya, tentang warna dari kacamata sains. Ia tahu persis bahwa warna merah memiliki panjang gelombang cahaya sekitar 700 nanometer. Ia paham betul bagaimana cahaya itu memantul dari permukaan buah apel, masuk ke retina mata, merangsang sel kerucut, dan mengirimkan sinyal listrik melalui saraf optik hingga akhirnya diproses oleh otak bagian belakang. Secara fisik dan biologis, tidak ada satu pun fakta tentang warna yang terlewat oleh otak brilian Mary.

III

Sekarang, kita sampai pada bagian yang paling menegangkan dari eksperimen ini. Suatu hari, pintu ruangan isolasi itu akhirnya dibuka. Setelah puluhan tahun hanya melihat hitam dan putih, Mary melangkahkan kakinya keluar. Udara segar menyapanya. Lalu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang menyodorkan sebuah apel berwarna merah tomat ke hadapan Mary. Mata Mary menatap apel itu. Otaknya mulai memproses panjang gelombang 700 nanometer tersebut, sesuatu yang selama ini hanya ia baca dalam bentuk angka dan teori. Nah, di sinilah letak teka-teki besarnya. Teman-teman, coba kita renungkan ini sejenak. Ketika Mary melihat warna merah secara langsung untuk pertama kalinya, apakah ia mempelajari sesuatu yang baru? Ingat, sebelum keluar ruangan, Mary sudah mengantongi 100 persen pengetahuan fisik, kimia, dan biologis tentang warna merah. Jika sains memang mampu mencakup semua kebenaran di alam semesta, maka Mary seharusnya tidak kaget. Ia seharusnya tidak mendapat pengetahuan baru apa pun. Tapi, apakah benar begitu? Apakah lembaran data di kepalanya benar-benar sama dengan pengalaman matanya saat ini?

IV

Jawabannya: Iya, Mary mempelajari sesuatu yang baru. Dan jawaban "iya" ini bagaikan bom waktu bagi banyak ilmuwan yang menganut paham physicalism—yakni kepercayaan bahwa segala sesuatu di dunia ini murni bersifat fisik dan bisa dijelaskan secara sains. Saat Mary melihat apel itu, ia tiba-tiba menyadari satu hal yang tak pernah tertulis di buku teks sains mana pun: ia akhirnya tahu bagaimana rasanya melihat warna merah. Dalam dunia psikologi dan filsafat, pengalaman subjektif ini disebut sebagai qualia. Qualia adalah "rasa" dari sebuah pengalaman sadar. Kita bisa membaca jutaan jurnal medis tentang bagaimana reseptor nyeri bekerja saat kulit tersayat pisau. Tapi mengetahui biologi rasa sakit tidak akan pernah sama dengan mengalami perihnya jari yang teriris. Pengetahuan fisik ternyata memiliki batas. Data, angka, dan gelombang elektromagnetik adalah sebuah peta yang sangat akurat. Namun, sehebat apa pun sebuah peta, peta tersebut bukanlah wilayah aslinya. Mary memiliki peta warna yang paling sempurna di dunia, tapi baru pada detik ia melihat apel merah itulah, ia benar-benar meninjakkan kaki di wilayahnya. Pengalaman sadar manusia terbukti menyimpan misteri yang belum bisa dipecahkan oleh rumus matematika mana pun.

V

Kisah Mary di dalam ruangan hitam-putihnya bukan sekadar teka-teki filsafat yang rumit. Cerita ini sebenarnya adalah pengingat yang sangat hangat tentang betapa indahnya menjadi manusia. Di era modern ini, kita sering kali terlalu terobsesi dengan data, matriks, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Kita kadang lupa bahwa ada dimensi kehidupan yang murni hanya bisa dirasakan, bukan dikalkulasi. AI masa kini mungkin bisa menulis puisi tentang patah hati yang secara gramatikal sempurna. Algoritma bisa mendeskripsikan secara biologis apa yang terjadi di otak kita saat kita jatuh cinta. Tapi, selamanya, mesin itu tetap berada di dalam "ruangan hitam putih". Mesin itu tidak memiliki qualia. Kitalah yang melangkah di luar ruangan itu setiap hari. Eksperimen Mary mengajarkan kita untuk lebih menghargai setiap sensasi kecil yang kita alami. Rasa dinginnya es krim di lidah, aroma tanah setelah hujan, atau hangatnya pelukan dari orang yang kita sayangi. Sains memberi kita keajaiban berupa pemahaman tentang alam semesta, namun hanya dengan menjadi manusia yang hidup dan merasalah, kita benar-benar bisa menikmati keajaiban tersebut.